MAIYAHKUDUS.COM

Dajjal Wallahu’alam

Waktu Baca : 2 minutes

Catatan Semak Tadabburan edisi 14 Oktober 2017

Apa jadinya jika Muhammad membalas perbuatan si peludah ketika diludahi? Apa jadinya jika Muhammad menerima tawaran Jibril untuk mengubur masyarakat Thaif dengan gunung karena melempari batu ketika didakwahi? Atau pada kisah lain, apa jadinya jika Khidir tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mencengangkan Musa dalam perjalanan ilmu?

Tentu semua yang pernah mendengar kisah-kisah tersebut mengerti adanya hikmah atas keputusan para nabi itu. Tidak hanya ketika hal terjadi, tapi ada proyeksi jangka panjang. Nabi-nabi itu memandang jauh tidak hanya ke depan tapi juga ke belakang. Masa lalu, masa kini, dan nanti. Tidak melulu linier dalam pengambilan keputusannya, tapi juga berpikir zigzag, spiral, siklikal, dst. Tidak terjebak berpikir formal belaka, tetapi juga substansial.

Namun demikian, ternyata sistem yang dilakukan oleh para nabi itu juga dilakukan Dajjal Almasih. Ya, almasih, makhluq penuh misteri ini juga bergelar almasih, gelar yang sama kepada Isa, di mana kedua pemilik gelar ini akan menjadi kutub berlawanan dan bertemu di akhir zaman.

Kembali ke sistem. Jika para nabi menyusun rencana strategi dengan penuh hikmah, maka Dajjal memakai sistem penuh fitnah – Dajjalisasi fitnah. Kita digiring sedemikian rupa agar tak mampu memahami mana yang salah dan mana yang benar, yang benar tampak salah, sang salah tampak benar, dan masing-masing berebut benar. Kita dibuat melihat kegelapan sebagai cahaya, menyangka neraka adalah sorga, meyakini kebatilan sebagai kebenaran, bahkan adzab dikira berkah. Seluruh situasi dan keadaan mewujud untuk peremehan terhadap Tuhan. Tuhan dianggap tidak berkuasa, tidak bekerja, tidak berkehendak, bahkan Tuhan tidak ada.

Sistem fitnah dibangun berlapis-lapis dan multi-sektor. Dari pendidikan sampai politik direka agar kita tunduk kepada sistem ini. Akal kita dibodohi agar kehilangan nalar, sehingga kita dipaksa untuk berpikir linier, sudut pandang dibuat sempit, titik pandang tidak fokus, resolusi pandang dikaburkan. Dan akhirnya kita tidak mampu merdeka karena kehilangan identitas.

Menghadapi kekuatan sistematis ini akan sangat susah, sampai-sampai kita sering berdo’a dalam sholat dengan bacaan “allahumma inni a’udlubika min adzabilqubur wa min adzabinnar wa min fitnatil masihiddajjal” di akhir takhiyat.

Selain do’a yang diajarkan itu, Nabi juga bersabda “Barangsiapa menghafal sepuluh ayat dari surat Al Kahfi, maka ia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal”. Sebagai manusia sadar tentu yang dimaksud menghafal bukan berarti hanya hafal secara tekstual, tentu lebih dari itu; merenungi, mentadabburi, mengambil hikmah dan tentu mengamalkan apa yang disampaikan dalam surat ini.

Setidaknya ada empat kisah yang bisa menjadi ibrah dalam surat tersebut. Masing-masing kisah memiliki pesan yang memberikan pelajaran bagi pembacanya, yakni: Kisah Ashabul Kahfi tentang fitnah atau ujian keteguhan iman. Kisah Shohibul Jannatain tentang fitnah atau ujian harta. Perjalanan Musa dan Khidir tentang fitnah atau ujian ilmu. Kisah Zulkarnain tentang fitnah atau ujian kekuasaan. Dan Fitnah-fitnah inilah yang ditebarkan Dajjal.

Nabi juga pernah bilang: “tidak ada negeri melainkan akan dilanda oleh Dajjal kecuali Mekah dan Madinah, …“. Maka untuk berlindung dari dajjalisasi ini sepertinya kita harus masuk ke madinah dan atau mekah. Mekah dan madinah bukan sekedar negeri atau wilayah, mekah dan madinah adalah juga landasan ilmu, simbolisasi hakikat hukum dan syariat sosial.

Untuk memasuki wilayah ini kita pun harus terus belajar memahami sistem dajjal dan nabi. Memahami dan mengeskalasi pengetahuan, pemahaman, pengertian, pendalaman dan peluasan, serta penguasaan. Belajar tahapan tadris, ta’lim, tafhim, ta’rif sampai ta`dib. Menguasai keadaan, thariqah, metodologi dan ragam pandang: sudut, sisi, lingkar, jarak dan resolusi pandang. Memasuki dlouq, susastra, ngeng, vibrasi, cengkok. pola berpikir linier, zig-zag, cekungan, cembungan, siklikal, atau thawaf. Memproyeksi Masa lalu, masa kini, dan nanti. (Redaksi – ‘Arif Lukman Kastury)

Penggiat di Simpul Maiyah Kudus. Tukang nggambar yang tak bisa menggambar.