MAIYAHKUDUS.COM

Sumbang Tandang

Waktu Baca : 2 minutes

Mukadimah Semak Tadabburan edisi ke-17 (15 Desember 2018)

Umumnya orang menganggap bekerja adalah mencurahkan kekuatan dan kemampuan diri dalam melakukan sesuatu yang bernilai. Tapi orang Jawa tidak menganggap mutlak demikian. Yang mereka lakukan adalah nyambut gawe, yaitu meminjam kemapuan berbuat (bekerja) untuk melakukan sesuatu. Penggunaan kata sebagai bentuk ungkapan tawadlu’ kepada Yang Mahamemiliki. Karena menyadari bahwa mereka lemah dan tak mampu apa-apa, sehingga harus meminjam kemampuan itu kepadaNya.

Setelah meminjam dan dipinjami kemampuan, maka semestinya bekerja sekuat tenaga, semangat, serius dan hati-hati. Pada konteks ini orang Jawa melakukan tandhang gawe, aksi untuk menunjukkan proses, di mana sifat rajin dan malas itu disematkan dan tanggung jawab dibebankan.

Proses nyambut gawe dan tandang tersebut adalah bentuk kepasrahan manusia sebagai hamba. Segala yang diupayakan tidak lebih dari laku ibadah, karena hasil yang diperoleh di dunia adalah rahmat Tuhan, karena sejatinnya Dia menjamin rejeki seluruh mahluk ciptaanNya. Sehingga laku sebagai abdi semestinya tidak ada orientasi untuk mengejar harta dan gemerlap dunia.

Proses tandang di Jawa juga adalah bagian dari bebrayan. Bentuk kerukunan dan kebersamaan yang saling tandang dan nandangi, saling tolong dan gotong royong. Seperti perintah Maharahmat agar hambaNya berbuat baik kepada sesama sebagaimana Dia berbuat baik kepada makhlukNya (Al-Qashash:77).

Kesadaran tersebut menjadi dasar atas konsep paradesa yang dibangun manusia Jawa kuno. Di mana budaya bebrayan berjalan atas dasar tepa salira dan gotong royong. Masing-masing berbagi peran untuk saling sumbang tandang, berbuat baik satu sama lain. Saling mengisi kekosongan satu dengan yang lain, apa yang belum ditanam maka salah satu sebaiknya menanam, agar semua mampu saling melengkapi sesuai kapasitas masing-masing.

Titik tolak dari semua itu, bahwa manusia pada prinsipnya diharuskan untuk selalu tandang, tidak boleh berdiam diri. Bersikap untuk selalu nandur kebaikan. Adapun hasilnya adalah urusan Yang Mahakuasa. “Sepi ing pamrih rame ing gawe” kata orang Jawa.

Namun seiring jaman justru bumi lebih banyak dihuni manusia berpaham materialistik. Bahkan lebih buruk, manusia mencapai tingkat “rame ing pamrih ngapusi ing gawe”, serakah hasil, gila pujian, dengan cara memanipulasi pekerjaan. Manusia tidak yakin Tuhan menjamin rejeki seluruh makhluk ciptaanNya, jika pun percaya maka kalau bisa seluruh rejeki dari Tuhan ke makhlukNya dimonopoli.

Falsafah “tuna satak bathi sanak” tidak lagi berlaku, tidak rasional prinsip untung sedikit tapi nambah sedulur, yang terjadi adalah modal sekecil-kecilnya dapat untung sebanyak mungkin. Manusia jenis ini merubah sumbang tandang dalam arti urun upaya berdasar kebaikan menjadi tandang sumbang (fals) atau berupaya karena keserakahan dan melenceng dari irama kesejatian.
***
Semak Tadabburan edisi ke-17 kali ini akan membincang tema “Sumbang Tandang” di Museum Kretek tanggal 15 Desember 2018. Mari beraksi, bersama nandur kebaikan. (ALK/Redaksi Semak)

Sedulur Maiyah Kudus (Semak) adalah Majelis Masyarakat Maiyah di Kota Kudus, yang merupakan bagian dari Masyarakat Maiyah Nusantara.