MAIYAHKUDUS.COM

Warta Sulaya

Waktu Baca : 2 minutes

Mukadimah Semak Tadabburan edisi ke-11

 

Di era digital, informasi mengalir deras. Individu mengunduh pelbagai informasi dari ruang publik maupun menyiarkan warta dari bilik pribadi. Sesimpel ‘klik’ fitur like and share, maka warta diteruskan ke jejaring pertemanan dengan cepat.

Perkembangan teknologi informasi tidak diimbangi nalar kritis. Sikap kedewasaan, tabayun dan kewaspadaan pun hilang dalam menelaah warta. Di sisi lain, sejak awal penciptaan media sosial tidak diimbangi penciptaan mekanisme yang berfungsi sebagai media konfirmasi dan klarifikasi untuk mengidentifikasi warta sampai ke sumber awal.

Kondisi tersebut memunculkan peluang bagi oknum untuk memanipulasi kebenaran. Seolah fakta nyatanya ‘sulaya’. Bermaksud mengaburkan kebenaran maupun menggiring opini publik sesuai kepentingan. Padahal idealnya, untuk memutuskan yang benar manusia membutuhkan input data yang valid. Lalu, bagaimana jika informasi acuan ternyata hoaks?

Dampak negatif tidak bisa dianggap remeh. Dari sudut mikro bisa kita temukan makin kreatifnya modus penipuan, fenomena bullying, persekusi, maupun warta berisi hasut dan propaganda. Secara makro, dapat kita rasakan tajamnya bibit-bibit kebencian antar golongan dan makin mudahnya sesama saudara tersulut pertikaian yang dipicu informasi tidak bertanggung jawab.

Seperti imbauan Mas Sabrang, untuk menyikapi realitas sosial diperlukan kemampuan menyaring sebelum bereaksi atas suatu warta. Semua bisa didengarkan tapi yang memutuskan mana benar dan salah tentu diri kita sendiri.

Lalu, seberapa mampu dan tajamkah daya saring kita? Seberapa berdaulatkah pikiran kita? Sedangkan kontaminasi hoaks telah merasuk di pelbagai bidang, dari warta sederhana tentang makanan, lifestyle, sains, tokoh, bisnis, politik, unjuk kebaikan maupun keburukan ternyata hoaks, bahkan informasi tentang Tuhan. Mungkinkah peristiwa demi peristiwa ini termasuk sebagai fitnah akhir zaman?

Untuk itu, bertepatan dengan milad 1 tahun Sedulur Maiyah Kudus, mari berjamaah sinau bareng, mentaddaburi dinamika kehidupan tersebut dalam tema “WARTA SULAYA” pada 29 Mei 2018 di halaman Museum Kretek Kudus.

Monggo hadir dan berdiskusi, menyatukan tali cinta kepada Yang Mahatahu dan Penyampai Ilmu-Nya serta berbagi kegembiraan dalam bingkai kearifan. (Redaksi – Semak)

Sedulur Maiyah Kudus (Semak) adalah Majelis Masyarakat Maiyah di Kota Kudus, yang merupakan bagian dari Masyarakat Maiyah Nusantara.