MAIYAHKUDUS.COM

Ja’a RahmatuLlah

Waktu Baca : 2 minutes

Mukadimah Semak Tadabburan Edisi ke-18 (12 Januari 2019)

Dia-lah, yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebahagiannya menjadi minuman dan sebahagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. (QS. 16: 10)

Januari kata orang: “hujan sehari-hari”. Orang Jawa menyebut hujan dengan kata udan, jawuh atau jawah dalam ucapan halusnya. Jawah adalah akronim dari ‘ja’a rahmatuLlah’ (telah datang rahmat Allah). Sebuah kata dengan pengejawantahan makna yang dalam, karena air adalah elemen penting bagi kehidupan di mana semua mahluk membutuhkan. Sebagai bagian dari proses air semesta menjadi air kehidupan. Semua itu adalah sunnatuLlah dan keberadaannya tentu karena rahmat-Nya.

Sejak SD, kita sudah diajari tentang mekanisme hujan. Bahwa hujan bermula dari air yang ada di bumi, kemudian mengalami penguapan ke atmosfer, berkumpul di atas, setelah waktunya,  jatuh-lah air ke bumi. Hal tersebut di dalam pengetahuan dianggap sebagai siklus air. Science menjawab pertanyaan bagaimana; bagaimana hujan berlangsung, mekanisme teknisnya, syarat dan ketentuannya, proses tahapannya.

Dalam pengetahuan anak SD, fungsi hujan salah satunya untuk menyuburkan tanaman, persawahan. Cukup menarik bahwa dalam Al-quran, sebagaimana kutipan ayat di atas, terdapat informasi bahwa air hujan setidaknya memiliki 3 fungsi, yaitu: untuk diminum manusia, sebagai penyubur tumbuhan, dan mengkondisikan peternakan yang menghasilkan. Di bagian lain Al-quran, redaksi yang dipakai lebih “bombastis”. Menghidupkan setelah matinya bumi, (fa ahya bihi ardho bada mautiha).

***

Semak adalah tetumbuhan. Jika seorang guru ketika mendengar kata semak, kemudian terlontar ayat tentang hujan, apa sebenarnya kira-kira yang ingin disampaikan. Tentu akan banyak cara dan sudut pandangnya. Setidaknya mau tak mau kita akan berusaha mengupas ayat yang diminta untuk dipedomani. Mentadabburi satu ayat bisa menghasilkan perspektif yang beragam.

Atau kita bisa memotret peristiwanya, bahwa selama ini kita kepada ayat yang diberikan oleh seorang guru, mencoba mentafsiri dengan mencari asbabun nuzul-nya untuk mendapatkan “pesan intinya”. Dengan begitu kita menemukan kebenaran ayat dalam pengalaman, sekaligus meneguhkan untuk terus mengalami kebenaran ayat dalam laku hidup.

Jadi, saat seseorang, sebuah komunitas diberikan semacam “dalil naqli” oleh seorang guru itu adalah keberkahan. Dan kegembiraan yang meluap-luap untuk mencoba menyelami ayatnya, menduga-duga hikmah peristiwa pemberiannya, dan rintik-rintik luapan kegembiraan lain adalah “hujan keberkahan”. Semoga air keberkahan yang tumpah sebagaimana disinyalir dalam ayat An-Nahl:10, menjadi siklus, putaran kebaikan bagi Sedulur Maiyah Kudus, Semak.

Maka, mari duduk melingkar untuk sinau bareng, mentadabburi kehadiran rahmat Tuhan ini di Museum Kretek Kudus, tanggal 12 Januari 2019. (Redaksi Semak)

Sedulur Maiyah Kudus (Semak) adalah Majelis Masyarakat Maiyah di Kota Kudus, yang merupakan bagian dari Masyarakat Maiyah Nusantara.