MAIYAHKUDUS.COM

Kitab Martabak (Part 2)

Waktu Baca : 3 minutes

Setelah keduanya masing-masing menyelami kitab Martabak, di suatu waktu Dalban dan Bryan bertemu. Seketika Bryan langsung mencecar pertanyaan-pertanyaan kepada Dalban. “Ada yang aneh, aku tidak selalu memahami maksud Kitab Martabak pemberian dari guru. Kalau kamu?”

Dalban mengiyakan, “Benar, aku juga merasakan hal yang sama. Beberapa hal terasa tidak masuk akal, tetapi beberapa yang lain sangat terasa gamblang”

“Apa kita tanyakan kepada guru? Bagaimana supaya kita memahami maksud Kitab Martabak dengan benar?” Bryan segera mengusulkan.

“Ah, ndak usah, kita baca-baca dulu dengan seksama. Baru kalau mentok, kita temui Kang Kuri.” Jawab Dalban.

“Siapa Kang Kuri?” Penuh tanda tanya Bryan melontarkan  kalimatnya setelah mendengar sebuah nama yang baru ia dengar. Nama itu terasa asing di telinganya.

Dalban menjelaskan, “Kang Kuri itu orang yang bernasib sama seperti kita, diberi kitab Martabak oleh Sang Guru. Jauh sebelum kita”.

“Ohhh,”  Bryan manggut-manggut. Tak berlama-lama dua sekawan itu cabut dari tempat tersebut.

Tidak sulit untuk mencari letak rumah Kang Kuri, Dalban membawa si Bryan ke sebuah kelurahan di mana beberapa waktu lalu ia pernah diajak sang Guru untuk singgah sejenak. Sebuah rumah sederhana, berwarna hijau, di halaman samping terdapat garasi mobil dan ayunan anak-anak. Di situlah Kang Kuri sehari-hari tinggal.

Tepat selepas Isya. Sampailah Dalban dan Bryan pada rumah yang dituju, mereka mengetuk pintu sembari berucap,

Assalamualaikum Kang..”

Wa’alaikumussalam warohmatulloh,” terdengar suara parau Kang Kuri dari balik pintu.

“Ya Allah.. Dalban, monggo-monggo,” Kang Kuri membuka pintu dan mempersilahkan Dalban serta Bryan masuk.

Suwun Kang..”

Ketika mau melangkah masuk, Kang Kuri menjeda, “Eitts, sik sik… iki arep TongBuh atau hanya sebentar saja? Kalau tongbuh kita ke samping saja, biar bisa sambil merokok.”

Bryan secara spontan bertanya, “TongBuh? Ngapunten, apa itu kang?”

Dalban tertawa, “Ha, Ha, Heu Heu.. Tongbuh itu artinya kita siap ngobrol sampai larut, sampai bunyi kentong subuh.”

“Kata Dalban, bahasa kerennya Majelis Para Penunggu Fajar” Kang Kuri menyahut.

“Silahkan duduk.” Ucap Kang Kuri pada tamunya.

Selang beberapa menit, Kang Kuri menghidangkan kopi kepada mereka.

Piye-piye? Sambil disruput lho kopinya,” Si pemilik rumah memulai pembicaran.

“Ini Bryan ingin ketemu Kang Kuri, eih nggak ding, sebenarnya kami memang sengaja ingin ngobrol dengan Sampeyan.” Dalban menyahut kalimat awal Kang Kuri.

“Ini berhubungan dengan Kitab Martabak.” Bryan langsung gass ke pokok persoalan. Mungkin karena antusiasme-nya akan jawaban dari Kang Kuri.

“Hmmm, kalian ditawarkan kitab Martabak oleh Sang Guru?”

“Lho, sudah diberikan Kang, malah Kitab Martabak tersebut sudah kami pegang” Bryan nyerocos dengan semangat.

Dalban menepuk punggung tangan Bryan, “Selow, Bro…” Kembali dengan memasang tampang serius, Dalban menelaah kata perkata yang diucap Kang Kuri barusan, “Pasti ada alasan mengapa Kang Kuri memilih kalimat ‘ditawarkan’, dan bukan menggunakan kata ‘diberikan’, padahal Sampeyan tahu lho, Kang. Bahwa Kitab Martabak sang Guru sudah kami pegang.”

Kang Kuri menghirup napas dalam-dalam, “Sebenarnya Kitab Martabak bukan hanya diberikan pada kalian, Sang Guru menawarkan Kitab Martabak kepada semua orang, kepada siapa pun yang ditemuinya. Namun tidak semua orang tertarik, dan menerima tawaran itu. Bahkan jika orang tersebut menerima tawaran kitab Martabak pun, tidak selalu tersampaikan. Maksud saya begini, kalau kalian menerima kitab Martabak lalu ditaruh di lemari tanpa dibaca, ditelaah, apa bisa disebut Kitab Martabak telah tersampaikan?”

Dahi Bryan mulai mengeryit, ia mlongo dan mulai sadar siapa sosok yang berada di hadapannya. Dengan seksama ia mendengarkan kalimat demi kalimat Kang Kuri. Bahkan satu katapun tak hendak ia lewatkan agar bisa memahami maksud dari ucapan si Pemilik rumah tersebut.

Kang Kuri melanjutkan, “Kalau, saya kirim WA, terus di HP saya sudah contreng dua, tapi belum biru, apa bisa disebut WA saya sudah diterima? Bahkan jika WA saya sudah contreng biru, apakah pesan saya di WA itu sudah pasti dipahami?” itulah mengapa saya memakai kalimat, kitab Martabak ditawarkan, dan atau kitab Martabak diberikan.”

Bryan, meski sedikit kepontal-pontal menerima penjelasan Kang Kuri, dia mulai menikmatinya.

Dalban kemudian melempar pertanyaan kepada Kang Kuri. “Bagaimana cara agar Kitab Martabak yang sudah ditawarkan, diterima?”

“Pertanyaanmu cerdas,” Jawab Kang Kuri. “Sebagaimana WA, ya dibaca, ditelaah dan dipahami maksudnya, lalu direspon. Bukankah dalam kitab Martabak tidak semua kalimatnya jelas, cetho welo-welo? Setahu saya, dalam kitab Martabak ada yang hanya berupa data, ada juga yang sudah informasi, bahkan terkadang sudah jadi pengetahuan”.

Bryan segera menyambut kalimat Kang Kuri, “Nah, itu lah yang membuat kami datang ke sini, kami merasa saat ingin memahami maksud kitab Martabak, sepertinya perlu proses, bisa jadi karena isi kitab Martabak tidak selalu siap saji dan siap dimakan”.

“Betul,” Kata Kang Kuri, “Kalian harus punya ketepatan analisa untuk merangkum data menjadi informasi,  kalian sebisa mungkin punya kelincahan eksplorasi untuk mendapatkan pengetahuan dari informasi, dan ujungnya kalian akan mempunyai kemampuan intuitif setelahnya.”

Dalban yang sedari tadi mendengarkan, manggut-manggut, “Ya, ya…  Ketepatan analisa, kelincahan eksplorasi dan kemampuan intuitif.”

Bryan nyamber seketika, “Lha bagaimana agar kami bisa memiliki itu semua? Maksud saya… Agar ada semacam percepatan?”

“Sabar, sabar…”  Jawab Kang Kuri, “Ada password-nya!”

Password???”  Dalban dan Bryan melongo.

Taqi taqi tuqo tuqo!, sudah dulu, besok kita lanjutkan, sudah tongbuh. Ayo siap siap menyongsong fajar.” Kang Kuri menutup obrolan.

Penggiat di simpul Gambang Syafaat Semarang. Sehari hari bekerja sebagai PNS di Kudus.