MAIYAHKUDUS.COM

Kitab Martabak (Part 5)

Waktu Baca : 2 minutes

Pukrul tampak bimbang, gerak-geriknya menunjukkan ingin segera beranjak dari Majelis Reboan di rumah Dalban. Melihat hal tersebut, Dalban segera menutup Majelis itu.

“Sedulur semua, Majelis Reboan kali ini kita sudahi dulu, meski mungkin beberapa pertanyaan belum terjawab, malahan justru menimbulkan pertanyaan baru yang lebih mendalam. Saya harap sedulur semua tidak bergantung dengan solusi terjawab atau tidak di forum ini. Majelis Reboan tidak dibuat untuk menjawab pertanyaan, tetapi agar setiap peserta mampu menemukan jawaban secara otentik berdasarkan pertimbangan dan konteks masing-masing”

Pukrul tanpa ba bi bu langsung ngacir.

***

Sehari setelah malam itu, Dalban memanggil Pukrul. Tentu saja, segera setelah ada kesempatan Pukrul datang ke rumah Dalban.

“Kemarin kamu kok buru-buru, mau ke mana?” tanya Dalban.

“Wah, lah iyo, apes Kang!” Pukrul menjawab dengan lemas.

“Apes bagaimana? Memangnya ngapain?”

Pukrul menyalakan rokoknya, rokok Tingwe, rokok tanpa cukai, rokok perjuangan katanya. “Aku kemarin itu ke Bioskop. Mau netepi omonganku, bahwa aku bukanlah pribadi yang gampang masuk angin. Aku ngantri film Hayya. Eh, sampai sana malah kehabisan tiket. Semua studio menayangkan film itu, dan ketiga-tiganya full sudah dibooking oleh beberapa ormas dan perkumpulan pengajian gitu.”

Dalban tidak langsung menanggapi, dia berusaha berempati. “Sebentar, yang kamu maksud masuk angin itu bagaimana? Apa hubungannya film Hayya dengan masuk angin?”

“Ha ha ha … pertanyaanmu lho Kang, ndeso banget! Aku itu nahdliyin, mbah buyut, nenek, abahku, semua nahdliyin. Aku ingin menunjukan bahwa tidak perlu anti kepada film Hayya. Aku sudah selesai dengan ‘model keberagamaan’-ku, cuma film, tidak mungkin membuat berkurang kenahdliyinanku. Masuk Angin itu kalau anak kemarin sore, yang gampang terpengaruh, gumunan, kagetan dan seterusnya”

“Sebentar-sebentar, Apa hubungannya film Hayya dengan kadar nahdliyinmu? Memangnya film itu berormas gitu? Berideologi? Kok kamu menghadap-hadapkan seolah-olah ada film yang nahdliyin ada film yang non-nahdliyin?” Dalban mulai memancing-mancing.

“Faktanya, di lapangan begitu kok, kemarin itu pengunjung bioskop rata-rata dari sekolah yang non-nahdliyin. Busananya juga kelihatan, lengkap dengan bendera di pipi kiri dan kanan, bendera Indonesia dan Palestina. Maka dari itu, aku ingin berbeda sikap. Aku nahdliyin dan tidak masalah dengan film Hayya.”

“Apa ada himbauan untuk tidak menonton film Hayya?” Dalban mengejar.

“Aduh … Aku tidak memakai kata himbauan, tapi menuansai, memberi cuaca untuk tidak perlu nonton”

Dalban menarik nafas, “Aku setuju dengan istilahmu, masuk anginan, orang dengan pikiran terbuka dan berkeinginan kuat mencari hikmah, tidak sepantasnya membatas-batasi diri. Ini bukan tentang nahdiyin, ini tentang kita. Aku merasa ada gelombang saling anti terhadap sesuatu.”

“Justru itu, Aku tidak ingin terseret ke gelombang itu, Aku mencoba bersikap biasa wae, netral, normal, wasathan.” Pukrul serasa mendapat kesempatan menerangkan siapa dirinya, sikap politiknya, genre kebudayaannya.

“Bayangkan, Indonesia yang begitu beragamnya seolah-olah hanya ada dua ‘kotak’ secara politik, itu kan njelehi. Kalau ngritik kepada pemerintah, langsung mendapat stigma anti NKRI.”

Dalban menambahi, “Sepertinya akar dari gelombang pro-kontra karena kita bersikap terlalu. Terlalu mencintai itu tidak baik, apalagi terlalu membenci”.

Suro Diro Joyo Ningrat lebur dening Pangastuti”, Pukrul tiba-tiba ingat kalimat itu.

“Masalahnya, siapa sekarang yang membawa Panji Pangastuti? Siapa tokoh yang merupakan tokoh semua kalangan?” Dalban mencegat Pukrul.

“Presiden Tronjal-Tronjol, Gundala Putra Petir! Timnas Sepakbola!” Pukrul tertawa.

“Masih ingin nonton Hayya?” Dalban menyudahi tawa lepas Pukrul.

“Jelas, dan pasti juga akan nonton The Santri, sekali lagi aku ingin katakan bahwa aku bukan generasi yang mudah masuk anginan. Aku tidak mau terseret gelombang pro-kontra,”

“Nanti kalau di film Hayya, ada adegan karnaval tujuh belasan, ada tulisan NKRI harga mati, ada ritual iring-iringan manten, ada tokoh berjenggot yang kucluk, kamu jangan kaget!” Dalban menggoda Pukrul.

“Lhoo, Sampean wis nonton?”

“Aku kan Sufi … suka film, dan ora masuk anginan.”

M. Ali Fatkhan
Penggiat di simpul Gambang Syafaat Semarang. Sehari hari bekerja sebagai PNS di Kudus.