MAIYAHKUDUS.COM

Kitab Martabak (Part 6)

Waktu Baca : 2 minutes

Dalban sedang asyik menemani anaknya bermain ayunan di pelataran rumahnya yang cukup asri. Anak Dalban, tidak tahu kalau rumah tetangganya itu punya taman yang menyenangkan, Dalban sengaja tidak memberi tahu, tidak cerita.

Tetangga Dalban, Pak Dasinsera orangnya nyentrik, jarang keluar rumah, hanya sesekali -dan seringnya dalam rangka- memberi snack, oleh-oleh atau apa saja kepada tetangga kanan kiri. Rumahnya tepat berhimpitan dengan rumah Dalban. Pagar setinggi kira-kira dua meter memisahkan rumah Dalban dan Pak Dasinsera.

Pernah suatu ketika Dalban diundang hajatan oleh Pak Dasinsera. “Memang nyentrik orang ini”, gumam Dalban. Halaman rumahnya sangat indah untuk ukuran Dalban, bunga-bunga ditata sedemikian rupa, batu-batu entah dari mana disusun seperti tepian sungai. Air mancur sengaja tidak dimatikan sepanjang hari untuk memberi penghidupan tanaman dan bebunyian gemericik aliran.

Hanya satu saja keluhan Dalban, rumahnya tertutup. Pak Dasinsera sering sekali bepergian, dia mengelola tamannya itu sendiri.

Nah, saat bermain ayunan itulah, ketika anaknya didorong oleh Dalban, mendadak dia berdiri di ayunan, sehingga pandangan anaknya melewati pagar pembatas rumah. Sontak saja anaknya berteriak, “Pah, lagi-lagi, dorong yang tinggi!”

Dalban justru mengerem dorongan ayunan, sehingga anaknya tidak mencapai batas ketinggian pagar pembatas. Anaknya merengek minta didorong, lalu berdiri sehingga terlihatlah keindahan taman rumah Pak Dasinsera.

“Pah, apik tenan, ada taman di seberang!”

Owalah … ternyata kamu ngelihat tamannya Pak Dasinsera toh!” Dalban baru mengerti kenapa anaknya minta didorong lebih tinggi.

Sejak itu, main ayunan adalah kegemaran anak Dalban. Tentu tidak sekedar berayun saja, tetapi untuk mengintip taman dari pagar pembatas rumah Pak Dasinsera. Kadang sore hari dia berayun sendiri tanpa dibantu Dalban, saat di titik tertinggi itulah, dia seakan mendapat imbalan, melihat taman indah Pak Dasinsera, meski untuk mencapai itu sebenarnya ada resiko jatuh.

Dalban merenung, melihat pemandangan tersebut. Peristiwa cerianya sang anak dalam ayunan, keasyikan yang berproses, naik turun ayunan, terlihat dan tertutupnya taman.

Tiba-tiba Pukrul menggedor keheningan

“Hayoo! Sampean mikir opo? sampai melongo ngono? Sudah lima menit aku di sini”

Ndak, ndak mikir apa-apa.” Jawab Dalban.

“Biar sampean mikir, aku kasih pertanyaan, apa aku harus ikut thariqat supaya bisa wushul, agar bisa mukasyafah?”

Dalban tidak langsung menjawab, dia sudah mulai mengerti watak Pukrul, ada kalanya tidak harus dijawab pertanyaan yang dilemparkan Pukrul. Tetapi kali ini, Dalban seolah-olah diberi ilham untuk menjawab pertanyaan Pukrul perihal thariqat, kasyaf.

“Pukrul, sini, kamu sekarang duduk di ayunan, nanti aku dorong.”

Pukrul sedikit menolak, tetapi diyakinkan oleh Dalban bahwa jawaban atas pertanyaannya diperoleh saat main ayunan.

Mulailah Pukrul dan Dalban bermain ayunan, Dalban mendorong ayunan, awalnya pelan-pelan, Pukrul belum paham maksud Dalban. Saat di ketinggian tertentu, di mana Pukrul melihat sekilas taman Pak Desinsera, Pukrul berkata, “Dorong yang kuat, tadi aku melihat pemandangan apik dari sini saat aku di atas”

Pas di momentum itu, Brian datang.

“Wah, wong tuwo gendeng, malah dolanan ayunan!”

Segera saja Dalban menuntun Brian untuk menggantikan posisinya mengayun ayunan, “Bri, dorong sing kuat, biar Pukrul seneng ndelok tamannya Pak Dasinsera” Brian nurut saja atas permintaan Dalban.

Dalban mendekat ke pagar pembatas rumahnya dan rumah Pak Dasinsera, Dalban mengambil batu-bata, satu demi satu, menjadi semacam tangga, sampai ketinggian di mana Dalban bisa berdiri di tumpukan bata untuk melongok ke taman Pak Dasinsera.

Pukrul berteriak ke Brian saat melihat apa yang dilakukan Dalban, “Bri, wis, mandeg!” Segera setelah ayunan berhenti, Pukrul meminta Dalban geser, dan ikut berdiri di tangga batu bata yang barusan dibuat Dalban.

Setengah berbisik Dalban mengucapkan kalimat di telinga Pukrul, “Thareqat iku, yo ngene iki, berjenjang untuk memasuki kasyaf, tapi bukan berarti harus dengan tangga seperti ini, kamu bisa berayun-ayun.”

Asuuu sampean! cerdas!”

Brian mlongo, tak paham polah kedua kawannya itu.

Penggiat di simpul Gambang Syafaat Semarang. Sehari hari bekerja sebagai PNS di Kudus.