MAIYAHKUDUS.COM

3 Alasan Mengapa Cak Nun Begitu Dicintai

Waktu Baca : 2 minutes

Beranda twitter saya dipenuhi tagar #67TahunCakNun. Tentu ini tak mengagetkan. Teman-teman yang saya ikuti maupun mengikuti saya adalah teman-teman sekitaran Maiyah. Mereka sudah dipertemukan dengan Cak Nun melalui beragam cara. Bisa dengan acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kia Kanjeng di berbagai daerah atau maiyahan di simpul-simpul Maiyah. Mereka juga mengenal Cak Nun melalui pementasan teater, karya berupa puisi, cerpen,esai, naskah drama hingga sekadar perkenalan mereka karena diceritakan oleh teman-temannya. Atau dengan cara yang tidak bisa saya tulis hingga mereka bisa mengenal Cak Nun.

Cak Nun bagi sebagian besar anak-anak Maiyah termasuk saya mungkin bisa dianggap sebagai Guru, Bapak, Simbah bahkan sahabat dekat meski tak pernah berjabat tangan. Cak Nun menjadi alasan bagi beberapa teman Maiyah untuk bisa selalu optimis terhadap Allah. Bagaimana Cak Nun mengajak kita agar selalu berpikir positif terhadap Allah. Meski keadan sulit, rumit bahkan dalam riang gembira, kita semestinya tidak memiliki prasangka buruk terhadap Allah. “Syukur adalah suatu kenikmatan” ujar beliau yang masih saya ingat hingga hari ini.

Lalu bagaimana Cak Nun bisa begitu dekat dengan beragam jenis usia. Ada beberapa faktor yang bisa saya utarakan perihal alasan begitu banyak orang yang mencintai Cak Nun. Pertama, Cak Nun tidak menganggap dirinya sebagai tokoh, Kyai, Ulama, Wali atau bahkan seseorang yang memiliki kekuasaan. Beliau selalu saja mengatakan ini di setiap acara maiyah. Memposisika nsebagai saudara yang sama-sama mengharapan syafaat Muhammad menjadikan beliau memutus ribuan jarak dengan orang-orang. Orang-orang begitu dekat dengan Cak Nun. Mereka tak segan-segan menyapa Cak Nun dengan beragam sebutan. Ada Cak, Pak, Simbah hingga Bapak.

Kedua, Materi maupun ceramah yang disampaikan Cak Nun gampang dimengerti. Tak seperti di bangku kuliah atau di dalam kelas yang penuh dengan teori ndakik-ndakik untuk sekedar menjelaskan masalah sekitar. Cak Nun mengungkapkan hal rumit dengan sungguh sederhana dan disampaikan dengan jenaka tanpa mengurangi esensi masalah. Bahkan apa yang disampaikan oleh Cak Nun tidak pernah diajarkan di bangku-bangku sekolah maupun kuliah. Penjelasan yang sederhana inilah menjadikan orang-orang begitu betah duduk berjam-jam.

Ketiga, hal terakhir yang menjadikan alasan saya mencintai Cak Nun adalah cinta itu sendiri. Cak Nun selalu menyapa orang-orang dengan penuh cinta dan kasih sayang. Beliau setiap hari berkunjung dari daerah ke daerah lain. Dengan durasi waktu yang tidak sebentar dan tentu istirahat yang sedikit, Cak Nun selalu bersemangat menyapa orang-orang. Tentu saja jika tidak kerena cintanya Cak Nun kepada orang-orang, aktivitas seperti ini menjadi berat.

Pasti kalian punya alasan lain mengapa kalian mencintai Cak Nun. Tagar #67TahunCakNun masih saja ramai di beranda twitter saya. Ilmu-ilmu yang sudah pernah disampaikan Cak Nun dikabarkan  ulang lagi. Mereka ingin mengabarkan bahwa ada seseorang yang menemani kita. Seseorang yang selalu hadir saat kita dalam keadaan putus asa, sedih maupun bahagia. Di situasi serba sulit ini, Cak Nun menjadi salah satu orang yang paling dirindukan.

Selamat Ulang Tahun Cak Nun.

 

Penggiat di Sedulur Maiyah Kudus. Guru di SMA 1 Mejobo, Kudus.