MAIYAHKUDUS.COM

CORONAISSANCE

Waktu Baca : 3 minutes

Mukadimah Semak Tadabburan edisi ke-33 (09 Mei 2020)

Corona Virus Disease atau yang karib disebut COVID-19 telah merubah banyak dimensi kehidupan, tidak hanya di Indonesia tetapi perwajahan dan struktur kehidupan dunia berubah total. Bahkan beberapa wilayah di negara luar tampak seperti kota mati, imbas implementasi kebijakan pemangku kepentingan. Semua aktivitas kehidupan dilakukan di rumah, seakan kita diajak untuk berhibernasi massal setelah berabad-abad dibuai hingar-bingar mayapada.

Sementara itu musuh dunia terus merangsek masuk ke nusantara, Jabodetabek terpukul berat dan menjadi wilayah episentrum dalam penyebaran pandemi COVID-19 yang menjalar ke daerah lain, tak berapa lama pemerintah menyatakan ada empat wilayah baru yang rawan menjadi episentrum adalah Surabaya, Makassar, Bandung dan Semarang. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto pada Rabu 29 April 2020 mengatakan bahwa pagebluk sudah menyebar luas di 34 provinsi di Indonesia. Data yang terhimpun hingga 28 April 2020 merinci, Jabodetabek ada sebanyak 4.002 kasus positif, disusul Jawa Barat dengan 969 kasus positif, Jawa Timur mengikuti dengan 857 kasus positif, Jawa Tengah secara kumulatif ada 682 kasus positif, sedangkan terakhir di Sulawesi Selatan yakni 453 kasus positif.

Beberapa pekan yang lalu masih kulihat bocah berlari riang di setiap pojok sekolahan bersama teman sejawatnya, mereka menanti lonceng berdentang tanda istirahat usai. Beberapa minggu lalu masih kulihat bapak dan ibu penjual jajanan berbaris di dinding sekolah, menunggu jari-jari kecil menyerahkan rupiah untuk membeli aneka macam yang dijajakan. Beberapa waktu lalu masih kudengar teriakan komando upacara bendera untuk memperingati hari kebangkitan nasional setiap Seninnya, seolah memproklamirkan kemerdekaan negara kita di mata dunia.

Waktu seolah berhenti tanpa negosiasi, sistem belajar-mengajar untuk sementara diistirahatkan. Tidak hanya sistem belajar-mengajar yang diistirahatkan untuk sementara waktu, tetapi hampir seluruh badan organisasi pemerintahan juga diistirahatkan. Lantas apa tindakan selanjutnya pemerintah menangani keadaan yang sedang terjadi saat ini dan bagaimana sikap kita sebagai masyarakat menanggapi masalah yang sedang kita hadapi?

Keputusan social/physical distancing  oleh pemerintah tentu saja melahirkan efek kupu-kupu (Butterfly effect) yang berimbas pada hubungan sosial kemanusian dan menyebabkan dua kubu dalam tatanan kemasyarakatan. Satu mengacuhkan imbauan pemerintah dan tetap beraktivitas seperti biasa, sementara sisanya menanamkan bibit waspada hingga ke ranah kognitif yang paling dalam, efeknya panic buying sempat terjadi hingga gangguan secara psikologis, seperti paranoid dan psikosis, bahkan di sejumlah daerah ada segelintir Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri lantaran tak kuat adanya stigma dalam masyarakat atau dorongan gangguan kecemasan berlebihan jika dirinya menularkan kepada orang lain seumpama dirinya benar-benar tertular. Di satu sisi banyak informasi yang digali guna membentengi diri agar tidak terpapar COVID-19, tetapi tidak sedikir yang menanggapi pagebluk dengan cara sewajarnya.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pun ditempuh pemerintah untuk meminimalisir makin meluasnya pandemi. Nahasnya sejumlah mafia muncul untuk meraup keuntungan hingga nurani sudah tidak berlaku lagi. Penimbunan oleh oknum pun terjadi di mana-mana selepas kran impor alat dan bahan kesehatan dibiarkan mengucur deras, mereka meraup keuntungan dari kebutuhan unit kesehatan dan pangan seolah-olah wamakaru ekonomi tidak akan lama, tetapi wamakarullah pasti terjadi.

Tidak hanya imbauan, pihak penguasa pun memberikan peringatan agar semua bentuk peribadatan digelar di rumah masing-masing, bahkan pemerintah sempat melarang salat Jumat di masjid secara berjemaah. Tentu saja peraturan pemerintah itu bersinggungan dengan protokoler idiologi beragama, baik dalam tatanan syariat dan akidah. Sebagian dari kita mungkin sepakat bahwa bersalaman adalah cermin kedamaian, tetapi budaya bersalam-salaman yang biasa dilakukan oleh sebagian umat muslim setelah selesai salat dianjurkan untuk tidak dilakukan sementara ini. Bahkan jika sebagian masyarakat yang memaksakan diri untuk tetap berjemaah di rumah ibadah, shaf yang biasanya rapat dan saling berdekatan dan tak jarang saling bersentuhan itu pun kini harus diberikan jarak minimal satu meter, serta banyak lagi aturan dan larangan baru oleh pemerintah yang tentunya bersinggungan dengan protokoler idiologi beragama.

Pandemi COVID-19 bukanlah satu-satunya wabah yang pernah menjangkiti masyarakat, sebelumnya sudah pernah ada wabah yang tercatat dalam sejarah manusia, seperti halnya wabah Tha’un yang terjadi pada zaman Rasulullah. Lantas bagaimana sikap Rasulullah dan para sahabat menanggapi fenomena yang terjadi pada saat itu?

Renaissance sendiri sebenarnya adalah istilah lain dari perkembangan peradaban modern, atau lebih luasnya merupakan pergerakan perkembangan kebudayaan yang memengaruhi kehidupan para intelektual dan cendikiawan di Eropa pada masa periode abad pertengahan guna memerangi kebodohan, kemerosotan intelektual dan menurunnya moral pada masyarakat saat itu. Renaissance mampu menular dalam waktu singkat dan menyebar dengan sangat masif hampir keseluruh kawasan Eropa seperti halnya COVID-19.

Lantas apa hubungannya Coronaissance dengan COVID-19? Mari kita saksikan di SEMAK Tadabburan pada Sabtu 10 Mei 2020 pukul 20:00 WIB, live streaming youtube Maiyah Kudus, berhubungan dengan milad yang ke-3 SEMAK, ikuti, like dan subscribe chnanel-nya. (AR/Redaksi Semak)

Redaksi Semak
Sedulur Maiyah Kudus (Semak) adalah Majelis Masyarakat Maiyah di Kota Kudus, yang merupakan bagian dari Masyarakat Maiyah Nusantara.