MAIYAHKUDUS.COM

Energi Sinergi

Waktu Baca : 2 minutes

Telah muncul purnama pada kami dari simpul salam perpisahan, kami wajib bersyukur ada yang menyeru seruan Tuhan.

Wahai yang diutus kepada kami, datang dengan perintah yang harus kami taati. Engkau penolong kami semua, wahai ikhtisar akhlak.

Itulah penggalan syair pujian yang didendangkan para penduduk Yastrib karena suka cita menyambut kehadiran pindahnya nabi dari Mekah. Perpindahan yang kemudian diikuti diaspora umatnya -para muhajirin.

Susah digambarkan bagaimana mereka (muhajirin) melakukan itu. Melepas segalanya demi sesuatu yang tak kasat mata. Rela meninggalkan rumah, perusahaan, harta hasil usaha seumur hidup bahkan ibarat tujuh turunan, sanak keluarga serta apa saja. Menuju daerah dengan ekosistem bertolak belakang seperti kebiasaan dirinya. Bukan karena iming-iming memperoleh ganti lebih besar, tapi hanya demi menjaga iman -keyakinan baru sangat abstrak yang sama sekali tak bernilai di mata dunia.

Namun demikian, hal ajaib dan luar biasa aneh terjadi ketika muhajirin sampai di wilayah baru itu. Penduduk asli menerima mereka dengan tangan terbuka. Bahkan kemudian memeluk seperti kerabat dekat atau saudara, dan bisa jadi lebih dari itu. Betapa tidak, mereka masing-masing merelakan separuh hartanya untuk para tamunya. Jangankan harta; tanah, usaha, malahan keluarga diberikan. Bukan itu saja, salah satu di antara mereka mempersilakan memilih salah satu istrinya, ia siap menceraikan jika tamunya berkenan. Itulah mereka yang disebut dengan kaum Anshar -kaum para penolong.

Mental dan keteguhan kaum Muhajirin dan Anshar sungguh sangat susah digapai nalar. Dan pasti akan sukar terjadi di masa kini. Contoh kecil saja, di musim hujan ini, yang katanya rahmat Tuhan malah berdampak pertikaian dan nyinyiran tidak penting di banyak lini. Sepertinya mungkin manusia modern gagal dengan ujian yang berwujud nikmat Ilahi.

Permisalan lain di masa kini tak terhitung jumlahnya. Goalnya adalah perpecahan di mana-mana. Tak cuma permusuhan, lebih-lebih sesama saudara mengadu domba. Sungguh aneh sekali, katanya umat nabi, justru akhlaknya menyeringai.

Sepertinya, umat kini sedang menghamburkan energi untuk hal ibarat meruntuhkan bangunannya sendiri. Gagal mensyukuri nikmat dan justru membangun laknat. Gagal mengalirkan rahmat malah justru mendaur azab.

Sinergitas Muhajirin-Anshar apa mungkin tidak relevan karena jaman? Mental, akhlak dan persaudaraan yang dibangun nabi atas mereka apa tidak kompatibel dengan era milenial? Atau mental kita yang tidak kompeten dengan itu? Jangan-jangan kalau kita hidup di masa nabi, justru berada di barisan melawannya? Na’udzubillah.

***

Maiyahan edisi kali ini Semak akan mentadabburi teladan semacam kaum Muhajirin dan Anshar. Antara kerelaan dan keserakahan sampai dengan persaudaraan serta permusuhan. Sampai ketemu dan selamat bermaiyah.

Wallahua’lambisshawab. (ALK/Redaksi Semak)

Redaksi Semak
Sedulur Maiyah Kudus (Semak) adalah Majelis Masyarakat Maiyah di Kota Kudus, yang merupakan bagian dari Masyarakat Maiyah Nusantara.