MAIYAHKUDUS.COM

Masa Depan ‘Listrik Padam’

Catatan Semak Tadabburan edisi ke-36 (15 Agustus 2020)

Ketika listrik padam: ‘cahaya’ karya Alva akan padam pula. Tidak terlalu menakutkan, bahkan jika hal itu terjadi tiba-tiba —seperti malam itu, beberapa detik, detik yang panjang, setelah munajat Sedulur Maiyah Kudus. Mak pet!

Jika kita menyaksikan siaran langsung Semak Tadabburan itu, pada menit ke-51 lebih 53 detik kejadian listrik padam itu akan tampak. Mungkin saja, itu adalah isyarat alam. Kejadian kecil yang besar, yang mengekspresikan keadaan zaman, dalam skala yang entah.

Pada sesi awal, “Masa [dep]Depan” ingin berbicara tentang kesiapan manusia, kompatibilitasnya, serta segala kecenderungannya dalam menghadapi zaman. Dan itu seperti langsung diuji, melalui listrik padam —apakah kita siap menghadapinya?

Listrik padam, mungkin tak ada yang mengharapkannya. Seperti itulah zaman. Sesuatu tak terjadi lantaran kita mengharapkannya. Bukan pengharapan kita yang jadi sebab utama dari kejadian. Sebab utama, tentu, adalah kehendak Tuhan.

Kita simpulkan: listrik padam adalah kehendak Tuhan, yang di balik itu mesti ada hikmah yang mampu kita ambil.

Kenyataan hidup mengantarkan kita pada analogi, listrik dan lampu adalah kebenaran ilmu pengetahuan yang manusia banggakan; mungkin lebih banyak mengandung mudharat ketimbang manfaat. Dan sebenarnya ia fana, akan mati. Kebenaran ilmu pengetahuan itu mati, tak berdaya. Kemudian kita diam-diam menatap ke langit, ada cahaya bulan karya Tuhan yang setia —barangkali itu adalah bagian kecil, dari kebenaran sejati yang dengan senang hati telah Tuhan bagi kepada kita.

Barangkali begitulah hidup. Kita selalu takjub kepada sesuatu yang nampak baru, nampak tak ada sebelumnya. Toh, padahal semuanya telah ada, dan cukup.

Listrik (dan ilmu pengetahuan) telah mengarahkan manusia menuju jurang. Mungkin manusia adalah aktor utama, dan listrik, pada masa lampau hanya alat: ia seperti batu yang digunakan berburu zaman purba, seperti pedang yang digunakan ketika perang, seperti alat-alat lainnya. Hanya saja manusia selalu salah, tak pas porsi menggunakannya. Penyebabnya, yang paling mudah kita baca, adalah hati manusia yang tak selesai, atau kata Gus Nasih “belum glowing”.

Apabila hati manusia selesai, ia tak akan gegap gempita menyongsong kemajuan yang sebenarnya kemunduran. Apabila hati manusia glowing, berkilau, bercahaya; ia akan sumeleh, serta setia kepada kebaikan, istiqomah. Maka tadabbur menjadi jalan tengah, dari keterbatasan ilmu pengetahuan manusia untuk mencapai kebenaran —sebab ia bertumpu pada kebaikan, konsekuensi kebaikan adalah hati yang glowing.

***

Tasawuf, kata Gus Nasih, sebenarnya telah diaplikasikan sejak Rasulullah. Akan tetapi, secara disiplin keilmuan, tasawuf mulai dikenalkan oleh sosok yang bernama Dzun-nun al-Misri. Ia meletakkan dasar teori tasawuf, yang kelak dikembangkan oleh muridnya yang bernama Abu Qosim Al-Junaedi.

Kehidupan yang keras harus diimbangi dengan kelembutan hati. Urusan utama tasawuf adalah melembutkan hati manusia. Karena itu, ia harus diaktualisasikan di tengah masyarakat.

Konon tasawuf adalam ilmu-nya ‘orang tua’, padahal, kata Gus Nasih, tasawuf itu harus sedini mungkin dikenalkan kepada generasi muda —agar keberislaman anak muda benar-benar menjadi prilaku.

Hati yang selesai, menurut Gus Nasih, sebenarnya adalah yang telah mendapat sentuhan Tuhan. “Bagaimana hati hamba ini akan bisa bersinar, jika masih saja bergantung kepada perkara yang selain Allah” —artinya, hati adalah sesuatu yang bersifat dinamis— “Allah-lah yang membolak-balikkan hati hamba, sesuai apa yang Ia kehendaki”.

Bagaimana hati mampu mendapat sentuhan Tuhan, bagaimana hati mampu bersinar?

Kata orang bijak, “tak mungkin saya melihat sesuatu, kecuali di situ saya melihat Allah”. Perkataan ini jangan sampai disalah artikan. Itu adalah kesadaran soal menemukan keEsaan Tuhan pada setiap hal, itu adalah ciri dari hati yang bersinar.

Selanjutnya begitu banyak percakapan asyik, yang justru akan lebih seru apabila disaksikan melalui http (link live).

Maka, hati bersinar adalah bekal yang kekal, apabila kebenaran ilmu pengetahuan telah tak berdaya, ia akan sangat bermanfaat apabila listrik kebudayaan, listrik tata negara, bangsa dan birokrasi sewaktu-waktu mati.

Ternyata, persoalan masa depan, hanyalah kesiapan mental kita pada ‘listrik padam’. (TA/Redaksi Semak)

Sedulur Maiyah Kudus (Semak) adalah Majelis Masyarakat Maiyah di Kota Kudus, yang merupakan bagian dari Masyarakat Maiyah Nusantara.