MAIYAHKUDUS.COM

MENAKLUKKAN DENGAN RASA ALA PAWANG

Waktu Baca : 5 minutes

Reportase Semak Tadabburan edisi ke-19 (9 Februari 2019), tema “Pawang”

Foto: Dok. SEMAK | Lokasi : Museum Kretek Kudus

Mengambil tema Pawang, sinau bareng edisi ke-19 di Museum Kretek Kudus, Sabtu malam (09/2/2019) ini diliputi suasana hangat dengan kedatangan tamu kegembiraan dari Gambang Syafaat Semarang, Mas Wakijo lan Sedulur (WLS). Nada sholawat dan syair tentang kehidupan begitu apik dikumandangkan sebagai pembuka.

Foto: Dok. SEMAK | Lokasi : Museum Kretek Kudus

Sebagai moderator, Kang Luqman mempersilakan para sedulur berinteraksi menjabarkan tentang definisi pawang dengan pemahaman masing-masing. Diawali oleh Sekjen Semak, Kang Iwan Pranoto menuturkan bahwa pawang ialah orang yang memiliki keahlian khusus. Ada tiga kosa kata yang hampir identik dengan makna tema pada malam ini, yaitu: pawang, pakar, dan ahli. Jika pakar atau pun ahli lebih dekat dengan adanya proser percobaan (uji coba) berdasarkan keahlian, serta lebih bersifat ilmiah, empiris, dan seorang dikatakan master bila telah melalui proses kegagalan yang banyak. Justru pawang cenderung dekat dengan istilah penakluk, pawang lebih pada rasa, menjinakkan dengan rasa.

Kang Luqman kembali menyampaikan mengenai tema, bahwa saat ini kita banyak kehilangan pawang. Salah satunya manusia punya kecenderungan takut keluar dari kotak, misalnya: mengaku bosan jadi buruh, nyatanya takut keluar kantor dan seumur hidup tetap jadi karyawan dengan menggerutui kehidupannya, mengaku anti sara tapi lupa ucapanya sedang mendlolimi yang lain, mengaku mengajak cerdas dan anti kebodohan nyatanya malas membaca dan tak bisa menerima pendapat orang, mengaku anti penindasan nyatanya menikmatinya, dst. Namun dari semua itu Mbah Nun berkali-kali mengajak kita untuk belajar menjadi ahli di tempat yang kita tekuni, sampai tak ada yang menandingi. Tapi bukan unggul dalam rangka mengungguli.

Menjabar makna pawang, Gus Syafiq mengatakan bahwa sekarang ini banyak orang dalam proses memperoleh ilmu bukan melalui jalan keprihatinan, ilmu sekarang sudah terhampar instan tinggal mengklik saja lewat dunia maya. Akhirnya untuk dikatakan sebagai pawang pun tentunya masih jauh dari kategori. Pawang yang paling mendasar dalam diri ialah jihadunnfsi yaitu menjadi pawang bagi diri sendiri. Jangan sampai kita pintar membahas orang lain sehingga kehilangan kendali untuk jihadunnafsi.

Foto: Dok. SEMAK | Lokasi : Museum Kretek Kudus

Majelis Semak Tadabburan edisi kali ini juga kedatangan pegiat maiyah Kalijagan Demak; Muhajir Arrosyid dan Kang Ahyar serta Yunan dari Gambang Syafaat Semarang. Agak keluar dari tema, Yunan mengkiaskan bila ingin melihat surga itu dapat kita saksikan pada anak-anak yang tersenyum, saling sambang simpul juga salah satu mengukuhkan eksistensi paseduluran. Sangat penting mengukuhkan eksistensi para pegiat, mengingat di luar juga banyak yang sinis terhadap majelis maiyah. Namun dengan adanya pegiat-pegiat yang mampu ancang-ancang sangat rapi, baik itu dalam jurnalistik dan reportase, kalaupun pada suatu saat nanti kemungkinan terburuk mengenai kepastian kita ditinggal oleh Mbah Nun, dengan proses perjalanan yang panjang kita telah merekamnya ke dalam sebuah catatan historis dalam bentuk tulisan-tulisan dan rekaman. Berkaitan tema, Yunan mangatakan, tulisan-tulisan itulah yang ia katakan sebagai pawang.

Foto: Dok. SEMAK | Lokasi : Museum Kretek Kudus

Sebuah pertanyaan tentang apakah hubungan pawang dengan keimanan dilontarkan oleh sedulur dari Undaan, Kang Anif. Pada kesempatan itu Kang Hajir mengatakan hubungannya entah apa, kita tidak bisa secara gamblang mengatakan ada hubungannya atau tidak karena itu berkaitan hubungan dengan siapa? Menyoal pawang, Dosen yang akrab dengan sapaan Kyai Kampus ini menilik dari kenabian Rasulullah SAW. Konteksnya ialah kepawangan Rasulullah ketika menjinakkan kaun kafir Quraisy. Perangkat apa yang digunakan Rasul dalam menjinakkan kaum kafir Quraisy? Bisa kita lihat bagaimana beliau menggunakan perangkat dalam upaya menjinakkan, jika pawang hewan harus mengenal karakteristik terlebih dahulu, maka itulah yang sudah dahulu dilakukan Nabi Muhammad.

Berbicara kepawangan mantan presiden RI di era Orba, Pak Harto, Kang Hajir mengatakan lebih melihat dari tinjauan fisik. Dari fisik yang ia (Pak Harto;red) jumpai, maka dinilai lah sebuah karakter yang melekat. Hal itu dapat kita lihat cara pak Harto memilih mentrinya dan ketika menilai karakter Amin Rais dan Gusdur pada saat akan memasuki istana negara.

Masih tak jauh dari Pak Harto, Dosen UPGRIS tersebut menceritakan Mbah Nun semasa dulu juga mampu memposisikan dirinya sebagai pawang bagi orang nomor satu yang menjabat sebagai presiden terlama itu. Dalam sebuah perbincangan, Mbah Nun mengatakan bahwa Pak Harto usianya sudah sangat senja untuk memikirkan negara Indonesia, sudah saatnya beliau menghabiskan masa tua dengan keluarganya. Strategi inilah yang yang Mbah Nun lakukan, bukan menaklukkan sang presiden dengan kekerasan, melainkan menggunakan trik untuk menjinakkan.

Kang Hajir juga menutur bagaimana cara Kyai memawangi kaum awam yang doyan minum bukan dengan larangan serupa, tetapi diajak minum sampai teler, kalau sampai pada tahap over, si Kyai mengeluarkan jurus ejekan, “Segitu kok nyerah, semono kok kalah, yo wis sak iki tak tantang ngaji”. Itulah cara jitu memawangi si pemabuk, bukan dengan kekerasan atau pelarangan-pelarangan.

Masih dalam suasana yang hangat dalam perbincangan, dari sudut audiens, Kang Esta yang selaku pegiat semak juga menyumbangkan pemahamannya terkait tema. Definisi manusia sebagai Ulul Albab, kita diberi kemampuan berpikir, maka kemampuan berpikir itulah konteks yang harus kita terapkan dalam kepawangan kita. Beliau melogikakan seorang tukang pijat dengan ritual keris pada saat mengobati pasien. Ketika kita mampu mengubah pemahaman bahwa keris tersebut bukan identik dengan klenik, tapi lebih menganggapnya sebagai sebuah teknologi, maka kita telah sampai pada pemahaman mempelajari gejala alam.

Pada sesi kegembiraan, Mas Wakijo lan sedulur melantunkan tembang ‘Mari Pulang’, dilanjut lagu berjudul ‘Keseimbangan’ berduet dengan Urva Creato. Dan sebagai penutup kegembiraan, Mas Kisut CS tampil dengan lawakan khas. Ada yang berbeda dari tampilnya Mas Kisut kali ini, Mbah Kung dan Kang Yitno sebagai pegiat Semak juga ikut terbawa hingga bergabung menghibur para sedulur maiyah.

Foto: Dok. SEMAK | Lokasi : Museum Kretek Kudus

Sebelum doa oleh Gus Syafiq, Pak Ekowi dan Mas Iwan menyampaikan pernyataan penutup. Pak Ekowi membacakan narasi awal Avatar The Legend of Aang: “Air. Tanah. Api. Udara. Dahulu negara hidup dalam harmoni. Kemudian semua berubah saat Negara Api menyerang. Hanya Avatar penguasa elemen yang mampu menghentikan mereka. Tapi saat dunia membutuhkannya dia menghilang. Tahun berlalu aku dan saudaraku menemukan Avatar baru, seorang pengendali udara bernama Aang. Meskipun pengendalian udaranya hebat, dia masih perlu banyak belajar sebelum siap menyelamatkan orang banyak. Tapi aku percaya Aang bisa menyelamatkan dunia.” Kang Iwan menyampaikan bahwa pawang itu orang yang mampu mengenal dirinya, pawang itu orang yang mampu mengendalikan dirinya, pawang itu mampu mendirikan dirinya dan pawang itu mampu menghambakan dirinya. (Yani – Redaksi Semak)

Ibu rumah tangga, pecinta sastra, abdi di Madrasah dan TPQ Miftahul Falah Undaan Kudus