MAIYAHKUDUS.COM

Bermunajatlah dengan Cinta dan Kerinduan

Waktu Baca : 2 minutes

Reportase Semak Tadabburan edisi ke-47 bagian pertama

Sudah beberapa edisi Semak Tadabburan berusaha tepat waktu. Begitu juga malam itu (16/10) ibarat bel sekolah, pukul 8 malam tet genderang munajat dimulai. Tampak kelompok rebana sudah siap berada di sisi kiri majelis, serta beberapa jama’ah yang telah hadir duduk di sekeliling ruangan dan teras Aula Cinta Rosul.

Gus Syafiq membuka acara di aula sederhana miliknya tersebut. Beliau menyampaikan “Mari kita niatkan, kita hantamkan munajat malam ini untuk akal pikiran kita, hati kita, nafsu kita, karena sebenarnya yang selama ini kita nasehati adalah akal pikiran dan nafsu kita.”

Pria yang identik dengan jas putih dan berambut panjang ini juga mengajak jama’ah menghaturkan bacaan Surah al-Fatihah untuk jasad, hati dan ruh Gusti Kanjeng Nabi. Jasad yang bersih lah yang mampu menemani perjalanan dari “isi”. Jasad ahli Qur’an saja akan utuh ketika di kubur kelak, apalagi jasad dari Gusti Kanjeng Nabi.

Kemudian Gus Syafiq mengajak Jama’ah Maiyah untuk menghaturkan pula Surah al-Fatihah itu kepada kedua orang tua kita seraya membayangkan keduanya, dan kita bayangkan pula di antaranya ada Kanjeng Nabi. Selain itu, al-Fatihah dikirimkan juga bagi para guru kita, terkhusus Maulana Muhammad Ainun Nadjib.

Gus Syafiq memohon ijin sementara tidak bisa membersamai acara karena ada uzur lain. Beliau juga berpesan agar bermunajatlah dengan khusyuk dan jadikan seperti meditasi. Menurut beliau, munajat hakikatnya merupakan inti dari seluruh rangkain acara malam itu.

Maiyahan edisi kali itu berlangsung di bulan Rabiul Awal, bulan yang dipercaya sebagai ulang tahun kelahiran Nabi Muhammad. Sehingga ritual dimensi spiritual malam itu lebih lama dari biasanya. Jam’iyatuddufuf al-Hannan selain memimpin munajat maiyah juga membaca membaca manaqib maulid Simtuddurar hampir seluruhnya. Selain nampak kekhusyuan di raut para jamaah, juga terasa sekali aroma haru kekerinduan dan cinta kepada kanjeng nabi ketika selawat menggema diiringi tabuh-tabuh rebana.

Di tengah munajat berlangsung jamaah masih berdatangan. Beberapa pegiat menggelar terpal berwarna biru yang menutupi hampir seluruh pelataran aula, sebagai alas para jamaah yang baru hadir. Setelah mengambil kopi yang disediakan di pojok-pojok, masing-masing dari mereka langsung mencari posisi duduk paling nyaman.

Namun tiba-tiba lepas mahalulqiyam, gerimis mulai turun dan semakin lama kian deras. Puncaknya ketika doa maulid dibacakan, jama’ah sudah merapat berdesakan di aula dan sebagian nebeng di teras rumah penduduk. Sehingga suasana terasa hangat ketika moderator mengambil alih pelantang, sebab aula penuh dengan jama’ah berdesakan.

Semua pemantik diskusi tampak sudah di depan ketika moderator mengajak semua jamaah berdiri untuk melantunkan Indonesia Raya. []

Sedulur Maiyah Kudus (Semak) adalah Majelis Masyarakat Maiyah di Kota Kudus, yang merupakan bagian dari Masyarakat Maiyah Nusantara.