MAIYAHKUDUS.COM

Mempertanyakan Muhammad

Waktu Baca : 2 minutes

Reportase Semak Tadabburan edisi ke-47 bagian kedua

Munajat terlantun bersama iringan rebana al-Hanan. Ayat dan sholawat seakan menggetarkan jagat raya. Hingga disusul datangnya hujan. Malam itu (16/10) di Aula Cinta Rosul, Semak Tadabburan dilangsungkan. “Reborn” dipilih sebagai tajuk dengan hasrat merespon keadaan.

Lahir kembali kiranya begitu bila kita terjemahkan dari tema yang dipilih. Hal itu merupakan sebuah keniscayaan yang secara masal akan terjadi beberapa saat lagi ketika pandemi berakhir, tutur Iwan Pranoto di awal majelis. Tentu saja kita sadar bahwa kelahiran kembali bisa terjadi setiap hari, bahkan setiap detik. Tapi sesuatu selalu punya sisi general dan individual atau universal dan partikular. Sampai di sini jamaah yang malam itu hadir mulai bisa meraba, sisi mana arah diskusi Semak Tadabburan edisi 47.

M. Ali Fatkhan kemudian menabuh ‘genderang pikir’. Bahwa kelahiran selalu tentang objek yang dilahirkan dan peristiwa kelahirannya. Momentum kelahiran Nabi yang sebentar lagi diperingati pun dihubungkan. Retorika pertanyaan juga menjadi sesuatu yang layak kita renungi; (1) manakah yang benar antara maulid atau maulud? (2) jadi yang diperingati kelahiran Nabi itu sebagai obyek atau peristiwanya? (3) apa saja yang perlu dihayati dan diwarisi?

“Nabi Muhammad sebagai manusia itu sudah pamungkas, sudah ‘selesai’ – tak ada ketakutan tak ada kekhawatiran, ada pertemuan dengan Tuhan di Gua Hira yang pasti membahagiakan. Tapi dengan keren beliau rela mengupayakan revolusi akhlak pada tata masyarakat, keren tho?” begitu kata Aan Triyanto sambil menanggapi pantikan M. Ali Fatkhan.

Dr. Abdul Jalil -mirip Descartes- memantik hadirin dengan berbagai keraguan substansial soal kosmos. Nabi sebagai kosmos, secara implisit, baginya lebih menarik ketimbang misalnya nabi sebagai (hanya) manusia, dengan kata lain, dimensi spiritual lebih menarik untuk didiskusikan ketimbang dimensi lain yang kadang kala memicu banyak perpecahan seperti perbedaan bahasa dan pengertian.

“Kita akan berjalan di takdir masing-masing,” begitu kemudian Dr. Abdul Jalil memungkasi, hadirin diam termenung, terpantik untuk berpikir? atau kah terpantik untuk meneruskan perjalanan menuju entah? []

Sedulur Maiyah Kudus (Semak) adalah Majelis Masyarakat Maiyah di Kota Kudus, yang merupakan bagian dari Masyarakat Maiyah Nusantara.