MAIYAHKUDUS.COM

Mukadimah Semak’an edisi ke-73 (9 Desember 2023)

Pada abad ke-13 SM terjadi penyerbuan Kota Troya oleh pasukan Akhaia (Yunani). Pertempuran ini dikisahkan sebagai konflik terbesar pada masa itu dan menjadi salah satu mitologi penting dunia kesusastraan Yunani. Kota Troya yang dikelilingi benteng sangat kokoh berhasil ditembus oleh pasukan Akhaia setelah sepuluh tahun melakukan pengepungan, demikian akhirnya perang dipungkasi. Peristiwa Kuda Troya yakni siasat pasukan Akhaia membuat patung besar berbentuk kuda dari kayu, yang didalamnya prajurit bersembunyi agar bisa memasuki benteng kota adalah moment paling diingat. Terlepas dari kebenaran atas peristiwa tersebut, siapa sangka peperangan besar itu dipicu oleh skandal perselingkuhan dua insan yakni pangeran Troya bernama Paris yang membawa lari Helena, istri dari Menelaus sang Raja Sparta. Tentu saja, amarah Menelaus tak terbendung menembus ubun-ubun karena merasa dikhianati dan dipermalukan.

Bukan saja karena predikat Menelaus sebagai raja, manusia pada umumnya juga berpotensi naik pitam bahkan gelap mata andaikan mengalami hal serupa, bedanya ketika yang mengalami adalah penguasa maka dampaknya berbeda. Prinsip yang mendasari adalah adanya akad, janji atau komitmen yang dilanggar. Selingkuh sendiri menurut KBBI V, memiliki arti menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan diri sendiri, tidak berterus terang, tidak jujur, serong, menggelapkan uang; korup, atau menyeleweng. Mengacu pemaknaan tersebut, maka selingkuh pun menjadi luas tafsirnya, konteksnya, dimensinya dan peristiwanya. Bukan melulu urusan asmara.

Seorang matematikawan mengetahui kebenaran bahwa satu ditambah satu adalah dua, tetapi jika kemudian ia membenarkan bilangan lain selain dua, maka ia sedang menyelingkuhi kebenaran yang ia yakini. Seorang pelajar pamit berangkat ke sekolah kemudian di tengah jalan menyeleweng membolos main game, juga menyelingkuhi komitmen terhadap pembelajaran. Atau seorang pekerja misalnya, mendapat upah dengan bekerja selama delapan jam ternyata menghabiskan waktu tiga jam mangkir bekerja untuk nongkrong di cafe, bisa juga disebut sedang melakukan perselingkuhan terhadap tempat ia bekerja.

Namun, bagaimana jika situasinya sedikit rumit. Andaikan saya atau Anda adalah si matematikawan atau pekerja tadi. Dimana kita dalam situasi tekanan dari pihak lain, atau dalam keadaan darurat yang tidak bisa ditawar, misal keluarga yang ditawan, anak yang mendadak sakit sehingga harus merawatnya. Bagaimana pandangan dan seharusnya sikap kita terhadap situasi ini? Ternyata setiap kita memiliki potensi-potensi perselingkuhan. Perselingkuhan dalam arti melanggar kepada sesuatu keyakinan, baik dengan sengaja maupun terpaksa.

Perselingkuhan apa yang setiap manusia punya potensi melakukannya? Setidaknya dengan mentaddaburi QS Surat Al-Ashr, Tuhan telah menunjukkan yang paling dekat dan melekat untuk kita selingkuhi adalah waktu. Setiap orang diberi waktu yang sama dalam sehari, hanya orang-orang yang mempergunakan waktu untuk melakukan hal yang baik, selalu ingat kepada Allah dan saling menasehati kebenaran dalam ruang percakapan, merekalah yang tidak rugi. Allah ingin kita berkomitmen untuk menggunakan waktu untuk terus bertumbuh dengan penuh kesabaran, maka jika kita berleha-leha, lalai, kita adalah pelaku perselingkuhan. Mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan, terlebih ketika dihadapkan pada situasi yang tidak kita harapkan dan tidak mudah dihadapi dengan beragam konteks maupun peristiwanya.

Sialnya, jika perselingkuhan ini dilakukan oleh orang yang memiliki otoritas kebijakan dan diamanati rakyat atau dilakukan oleh kaum intelektual yang seharusnya mengikatkan diri kepada kebenaran namun memilih berselingkuh kepada cuan, bayangkan bagaimana efeknya kepada banyak pihak dan kemudhorotan yang ditimbulkan. Saat ini hingga dua tahun mendatang sangat mungkin bangsa ini dipertontonkan ragam perselingkuhan, penyelewengan, perserongan, demi kepentingan-kepentigan pribadi atau perebutan kekuasaan dibalut dengan merdunya retorika.

Semak’an edisi ke-73 di Museum Kretek Kudus (9/12/2023) mengangkat tema “Perselingkuhan Intelekcuan” yang akan sangat menarik karena bisa menjadi momentum untuk saling menjadi cermin, menyimak keluar diri sekaligus merefleksi ke dalam diri, menemukan keutuhan. Wallahu’alam. (Tim Redaksi)

Penggiat di Sedulur Maiyah Kudus